Selasa, 03 Mei 2011

Serba – Serbi Filsafat

           Filsafat merupakan studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Fenomena yang ada dalam filsafat bisa berubah, bisa tetap dan bisa juga keduanya. Fenomena yang tetap mengikuti tokoh filsafat yaitu Permenides sedangkan fenomena yang berubah mengikuti tokoh filsafat Herakleitos.

Setiap orang bisa berpendapat tanpa terkecuali, karena dalam filsafat tidak ada pendapat salah ataupun benar, semua tergantung bagaimana kita bisa menjelaskannya. Misalnya dalam elegi Bapak Marsigit yang berjudul “Orang Paling Seksi Di Dunia” setiap orang bebas mendeskripsikan siapakah orang yang paling seksi di dunia ini. Pandangan antara orang satu dengan yang lainnya pastilah berbeda. Menurut Bapak Marsigit, orang yang paling seksi adalah orang yang paling mempunyai perhatian, jika dikaitkan dalam bidang politik adalah orang yang mempunyai kekuasaan seperti Presiden OBAMA. Tetapi itu menurut Bapak Marsigit, belum tentu menurut yang lain juga sama pendapatnya. Siapakah orang paling seksi di dunai ini adalah tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Dalam filsafat kita mengenal istilah “ comment surable “ yang artinya mengukur dengan ukuran yang sama atau adil. Maksudnya kita melihat situasi dan kondisi yang ada pada diri kita sebelum bertindak. Jangan melihat diri orang lain karena sesunggguhnya kita berbeda dengan orang lain. Contoh comment surable :
a.     Dalam matematika kita menerapkan adanya skala ukur. Untuk menggambar segitiga siku-siku yang diketahui kedua sisi selain sisi miringnya, kita dapat menentukan panjang kedua sisi tersebut dalam bilangan bulat, tetapi kita belum dapat menentukan apakah panjang siis miringnya dapat dinyatakan dalam bilangan bulat juga. Tergantung situasi dan kondisi dari panjang kedua sisi lain selain sisi miring.
b.      Antara pegawai yang satu dengan yang lain tentu mempunyai gaji atau penghasilan yang berbeda. Jika seseorang dengan gaji yang besar bisa membeli mobil misalnya, orang yang gajinya lebih kecil belum tentu bisa membeli mobil juga.
c.       Semakin bertambah usia tentu semakin banyak pula pengalaman yang kita dapatkan. Seseorang yang berumur 7 tahun tentu memiliki pengalaman hidup lebih sedikit dibandingkan dengan seseorang yang berumur 20 tahun. Jika yang berumur 7 tahun sudah memikirkan selayaknya orang yang berumur 20 tahun, itu dikatakan tidak comment surable atau in comment surable.

Sebagai seorang yang sedang belajar filsafat tentu kita tidak asing lagi dengan salah satu tokoh matematika yaitu HILBERT. Hilbert adalah bapak matematika non euclides dengan aliran yang dibawa adalah hilbertianism.  Banyak cabang matematika yang ditekuni oleh Hilbert, dimana masing-masing mampu menunjukkan kualitasnya sehingga sangat sulit menyebutkan sumbangsih Hilbert secara spesifik. Hilbert telah membangun sistem matematika normal sehingga terlahir struktur matematika. Selain itu Hilbert juga telah membangun matematika modern sehingga terlahir teori invarian, bidang-bidang bilangan aljabarik, analisis fungsional, persamaan-persamaan integral, fisika matematikal dan variasi-variasi kalkulus. Itulah sesungguhnya pengaruh Hilbert terhadap matematika Indonesia yang tentu sudah memberikan banyak kontribusi berarti.

Ontologi, aksiologi, dan epistimologi adalah landasan yang digunakan dalam filsafat. Landasan filsafat dianggap perlu adanya untuk mencapai tujuan filsafat yaitu membangun dunia dan mengetahui kualitas secara bertingkat-tingkat. Belum tentu yang berada pada kualitas 1 itu yang paling baik, karena nomor urutan tidak mempengaruhi kualitasnya, semua itu hanyalah metafisik. Misalnya dalam diri manusia, kualitas 1 adalah wajah, kualitas 2 adalah perasaan , cita-cita, kualitas 3, 4 ,5, dst bisa kita mendeskripsikan sendiri karena kita terbebas oleh ruang dan waktu.

Di suatu sekolah RSBI ada yang menggunakan tema hantu sebagai latar suasana dalam pembelajaran. Jika dipandang dari segi filsafat, tema hantu yang dipilih tidak ada salahnya karena kita bebas berekspresi. Jika dengan tema hantu itu kita pandang dapat memberikan suasana baru dan memberikan semangat belajar ke dalam diri siswa, mengapa tidak diterapakan? Tetapi sebaliknya jika itu hanya akan menurunkan semangat siswa dalam belajar, lebih baik tidak diterapkan. Misalnya ada yang berpendapat tidak setuju dengan tema hantu di sekolah RSBI, karena jika wadahnya sudah hantu, bagaimana dengan isinya. Menurutnya akan menjadi musibah saja. Tentu pendapat yang disampaikan tidak salah. Bisa juga orang lain berpendapat setuju dengan adanya tema hantu, dan itupun tidak salah. Karena sesungguhnya tidak ada pendapat salah ataupun benar  dalam filsafat, semua itu tergantung pada level apa kita memikirkannya.

Dalam belajar filsafat kita harus mengetahui kedudukan filsafat. Kedudukan filsafat meliputi objek filsafat. Ruang lingkup dari objek filsafat mencakup yang ada dan yang mungkin ada. Ada 2 macam objek filsafat yaitu objek formal dan objek material. Objek formal disini digambarkan sebagai suatu wadah dan objek materialnya adalah isi yang ada dalam wadah tersebut. Jika kita mempunyai suatu wadah yang tak kosong sudah barang tentu ada isi di dalamnya. Jadi bisa dikatakan ada objek formal pasti ada objek material dan jika tidak ada objek formal pasti tidak ada pula objek material. Karena objek material tidak bisa berdiri sendiri, tak mungkin ada isi yang tak ada wadahnya. Dalam filsafat pendidikan matematika, filsafat inilah yang berperan sebagai wadahnya dan pendidikan matematika yang berperan sebagai isinya. Keduanya saling terkait satu sama lain. Disisi lain ada juga yang berperan sebagai objek formal sekaligus objek material. Misalnya kita mempunyai botol berisi air yang berada dalam suatu ruangan. Botol di sini berperan ganda, yakni sebagai objek formal sekaligus sebagai objek material. Sebagai objek formal botol merupakan wadah yang menampung air sedangkan sebagai objek material botol merupakan isi dari suatu ruangan. Berarti ada 3 kemungkinan dalam objek filsafat :
·         Berperan sebagai objek formal saja
·         Berperan sebagai objek material saja
·         Berperan sebagai objek formal sekaligus objek material

Untuk belajar filsafat kita dituntut untuk berpikir sedalam-dalamnya (berpikir intensif) dan berpikir seluas-luasnya (berpikir ekstensif). Yang menjadi permasalahan adalah apakah kita masih bebas untuk berpikir jika ada referensi ? Kita hidup ada teori , kita hidup ada praktik. Kedua hal tersebut yang selalu melekat dalam hidup kita dan berjalan saling beriringan. Dalam teori kita mengenal referensi dan dalam referensi kita mengenal tesis dan anti tesis.  Dalam praktiknya kita akan berpikir dan terus berpikir baik menggunakan referensi ataupun tidak. Referensi memang perlu, karena suatu saat kita pasti membutuhkannnya. Seyogyanya kita masih bebas berpikir meskipun ada referensi, referensi ada bukan untuk megikat pikiran kita, akan tetapi referensi ada sebagai bumbu yang akan melengkapi pemikiran – pemikiran kita.

Ruang lingkup filsafat adalah meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kita sebagai manusia berwujud ada, ada manusia. Itu berarti manusia juga merupakan suatu filsafat. Banyak sekali cakupan dalam filsafat sehingga banyak juga aplikasi yang dapat kita peroleh dari belajar filsafat. Untuk mengetahui apa saja aplikasi yang dapat kita peroleh setelah belajar filsafat, gunakan metode hermenitika yakni menerjemahkan dan diterjemahkan.

Pendidikan di Indonesia akan semakin maju jika para generasi penerusnya mampu mengaplikasikan segala ilmu yang telah diperolehnya sehingga mereka menjadi generasi yang cerdas, cerdas intelektulal, cerdas dalam berpikir. Tetapi itu saja masih belum cukup, selain cerdas dalam berpikir mereka dituntuk pula untuk cerdas dalam berakhak. Salah satu cara untuk mewujudkan itu semua adalah dengan pemberian pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter sangat bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia karena dengan ini karakter peserta didik dapat terbentuk. Dengan karakter yang sudah terbentuk mereka mampu memilah dan memilih mana saja hal baik yang harus dilaksanakan dan hal buruk mana yang harus ditinggalkan. Kecerdasan dalam berpikir yang disatukan kecerdasan moral akan membawa pendidikan Indonesia menuju kemajuan.

Saat ini pendidikan di Indonesia sedang dilanda masalah Ujian Nasional atau yang biasa kita kenal dengan UN. UN sebagai penentu kelulusan siswa dirasa kurang konsisten, karena setiap tahunnya diterapkan suatu standar kelulusan yang berbeda-beda. Banyak kecurangan yang terjadi saat UN, misalnya banyak guru yang ikut membantu kelulusan anak didiknya dengan membantu memberikan jawaban. Banyak juga orang yang mencari lahan profesi saat UN, maksudnya misal ada orang yang membocorkan kunci jawaban UN. Dia menjual kunci jawaban UN dengan harga setinggi mungkin. Ada pula yang menyuruh orang untuk mengerjakan soal UN, jawabannya nanti akan disebarluaskan. Orang yang telah mengerjakan soal UN akan diberi bayaran sesuai dengan perjanjian antara kedua belah pihak. Disitulah sisi negatif dari UN. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana dampak psikologis anak yang mengikut Ujian Nasional? Bukan bagaimana cara meluluskan anak didik kita? Bagaimana karakter bangsa ini akan terbentuk jika yang tua sudah mengajari hal negatif seperti itu. Seharusnya UN mempunyai nilai strategis kesatuan bangsa. Semoga harapan ini akan manjadi kenyataan kedepannya.

Meskipun itu semua hanya sebuah harapkan, suatu saat waktu akan menjawab kapan harapan yang kita pikirkan akan berubah menjadi suatu kenyataan. Karena sesungguhnya dalam filsafat, kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi suatu kenyataan. Orang yang memikirkannya harus terang dalam pikirmya. Terang di sini mengandung maksud mengetahui ontologi berpikir yaitu dalam mengambil keputusan.  Terang dalam pikiran diekstensikan terang dalam hati dan terang dalam material. Ketika kita mengatakan sudah terang dalam pikiran kita, sebenarnya kita sedang mengalami kegelapan di sana. Teruslah berharap, sembari berharap lakukan hal nyata yang mendorong harapan itu tercapai. Manusia mampu berusaha, Alloh yang menentukan. Biarlah waktu yang kan menjawabnya.

Dalam filsafat kita akan melakukan suatu perjalanan imajiner. Melakukan suatu perjalanan filsafat imajiner layaknya kita mengadakan rekreasi ke suatu tempat wisata. Banyak hal menarik di sana yang masih belum kita ketahui dan harus kita ketahui setelah kita melakukan perjalanan . Sekalipun setelah perjalanan dilakukan kita masih belum tahu, itulah sebenar benarnya keterbatasan pikiran kita. Ketika perjalanan filsafat imajiner dilakukan, kita harus berpikir intensif yakni berpikir sedalam-dalamnya dan berpikir ekstensif yakni berpikir seluas-luasnya untuk masuk dan mendalami dunia filsafat yang sesungguhnya selama dalam koridor ruang dan waktu. Dunia filsafat di sini adalah dunia para filusuf. Perjalanan ini hanya ada dalam angan pikiran kita karena sebenar-benar dari perjalanan ini adalah imajiner. Dalam melakukan perjalanan imajiner kita dapat menuliskan apa apa yang kita bayangkan, karena tidaklah satu detik pun di kehidupan kita, kita terbebas dari imajiner.

Yang ada dan yang mungkin ada adalah objek dari filsafat. Antara keduanya jelas saling terkait. Yang selalu menjadi pertanyaan, manakah yang lebih dahulu muncul, apakah yang ada ataukah yang mungkin ada? Jawabannya : tergantung bagaimana kita memikirkannya dan dari sudut pandang manakah kita melihatnya. Ada berawal dari yang mungkin ada. dari yang mungkin ada bisa menjadi ada jika kita mampu berusaha untuk menjadikan sesuatu yang mungkin ada itu menjadi ada. Itulah hubungan diantara keduanya yang saling terkait satu sama lain. Ada berarti sesuatu yang kita pikirkan memang benar sudah ada dan tidak diragukan lagi keberadaanya. Sedangkan yang mungkin ada masih samar - samar keberadaanya, karena belum tentu yang mungkin ada itu menjadi ada tergantung usaha dari kita.

Sebagai akhir dari serba-serbi filsafat ini, saya akan memohon maaf jikalau banyak terdapat kesalahan baik kata maupun pendapat. Sebenar-benarnya itulah hanya pendapat diri saya yang menurut saya benar, tetapi belum tentu menurut orang lain juga benar. Sekali lagi saya tekankan, kita bisa berpendapat,  kita bebas berekspresi sebebas mungkin di filsafat, karena dalam filsafat tidak mengenal kata salah maupun benar, tidak ada pendapat yang salah ataupun pendapat yang benar, itu semua tergantung bagaimana diri kita mampu untuk menjelaskannya. Tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik ALLOH SWT.

Terimakasih …

Selamat berkarya !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar