Pengertian filsafat merentang pada dimensinya. Ada empat tataran yang mendefinisikan filsafat sesuai dengan dimensinya. Pertama adalah tataran spiritual. Pada tataran spiritual, filsafat adalah rakhmat dan karunia Tuhan. Kedua adalah tataran filsafat atau tataran normatif. Pada tataran normatif filsafat adalah sumber-sumber ilmu , macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu. Maka pada tataran ini filsafat adalah pikiran para filusuf meliputi metode berpikir dan pembenarannya. Pada tataran ini pula, filsafat tidak lain tidak bukan adalah epistemologi itu sendiri. Ketiga adalah tataran formal. Pada tataran formal filsafat merupakan berbagai macam ilmu pengetahuan yang meliputi ilmu – ilmu bidang. Keempat adalah tataran material, yang menjelaskan bahwa filsafat akan menghasilkan suatu karya berupa ilmu pengetahuan beserta dampak-dampaknya.
Untuk menyelami filsafat secara lebih dalam (intensif) dan lebih luas (ekstensif), perlu melakukan suatu perjalanan imajiner. Melakukan suatu perjalanan filsafat imajiner layaknya kita mengadakan rekreasi ke suatu tempat wisata. Banyak hal menarik di sana yang masih belum kita ketahui dan harus kita ketahui setelah kita melakukan perjalanan. Sekalipun setelah perjalanan dilakukan kita masih belum tahu, itulah sebenar benarnya keterbatasan pikiran kita. Ketika perjalanan filsafat imajiner dilakukan, kita harus berpikir intensif yakni berpikir sedalam-dalamnya dan berpikir ekstensif yakni berpikir seluas-luasnya untuk masuk dan mendalami dunia filsafat yang sesungguhnya selama dalam koridor ruang dan waktu. Dunia filsafat di sini adalah dunia para filusuf. Perjalanan ini hanya ada dalam angan pikiran kita karena sebenar-benarnya dari perjalanan ini adalah imajiner.
Filsafat merupakan ilmu yang mempunyai semua aturan. Begitu kompleksnya dunia filsafat yang terbebas dari intuisi ruang dan waktu. Kita mampu mentransformasikan dunia yang satu ke dunia yang lain, dalam Ruang dan Waktu. Dunia yang satu di sini adalah pikiran kita, sedangkan dunia yang lain di sini adalah dunia nyata. Kita dapat menuangkan segala hal yang ada dalam pikiran kita ke dunia yang nyata , dunia yang sebenarnya.
Dalam dunia filsafat kita mengenal siapa orang yang paling seksi, siapakah orang paling bodoh, siapakah orang paling pandai, dan siapakah orang yang paling berbahaya dalam hidup kita. Dalam forum tanya jawab perkuliahan disebutkan bahwa orang yang paling seksi adalah orang yang paling mempunyai perhatian, orang yang mempunyai kekuasaan. Menurut Bapak Marsigit, dalam dunia politik, orang paling seksi di dunia ini adalah Presiden BARACK OBAMA. Beliau mempunyai kekuasaan untuk memimpin negaranya. Itulah letak dari keseksiannya.
Untuk orang yang paling bodoh adalah orang yang sudah merasa jelas. Mereka merasa dirinya sudah mengerti akan segala sesuatu dengan jelas sehingga tak perlu mendengarkan kembali penjelasan dari orang lain. Itulah orang yang sombong, padahal sesungguhnya tak ada yang bisa disombongkan dari diri seorang manusia biasa, karena kita mempunyai keterbatasan. Ada orang yang paling bodoh tentu juga ada orang yang paling pandai. Orang yang paling pandai adalah kebalikan dari orang yang paling bodoh. Karena orang yang paling pandai adalah bukanlah diriku. Orang pandai akan tetap selalu merendah, tidak akan menyombongkan dirinya melalui kepandaiannya. Mereka merasa bahwa bukan dirinya yang paling pandai, masih ada orang yang lebih pandai dari dirinya. Mereka berprinsip, diatas langit masih ada langit.
Sedangkan orang yang paling berbahaya tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Bagaimana kita bisa menjaga orang lain jika kita tak mampu menjaga dirinya sendiri. Ketika aku tak mampu menjaga diriku sendiri maka aku tak dapat mengendalikan diriku akan penyakit hatiku. Aku akan selalu merasa diriku yang paling benar, pendapatku lah yang benar, aku akan sombong dengan kemampuanku yang sebenarnya terbatas, aku akan memainkan hidupku semau sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Disitulah letak bahayanya, karena selain aku merugikan diriku sendiri, secara tak langsung pun kita akan merugikan orang lain.
Tetapi untuk melihat siapa yang paling seksi, siapa yang paling bodoh, siapa yang paling pandai, dan siapakah yang paling berbahaya di dunia ini tetap tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Setiap individu punya pendapat masing-masing terkait siapa orang yang paling seksi, siapa orang yang paling bodoh, siapa orang yang paling pandai, dan siapa orang yang paling berbahaya di dunia ini. Tidak ada yang salah dan benar dalam filsafat, tergantung bagaimana kita mampu menjelaskannya.
Memaknai hidup memang sulit adanya. Jika dipandang dari segi filsafat ternyata hidupku itu adalah suatu reduksi. Reduksi di sini mengandung makna penyederhanaan. Penyederhanaan dilakukan guna kehidupan yang lebih baik. Menyederhanakan berarti seperti menyaring. Menyaring hal hal yang baik untuk diri ini dan hal hal yang tidak baik bahkan merugikan diri ini. Hal yang baik dapat terus kita lakukan bahkan kalau bisa dikembangkan. Sedangkan hal yang tidak baik bisa kita tinggalkan. Itulah pentingnya hidupku adalah reduksi. Tanpa reduksi hidup ini tak akan teratur karena kita bisa memainkan hidup ini sesuka hati tanpa ada filter yang akan mengontrol segala tidak tanduk kita.
Tidak ada manusia yang sempurna. Manusia melakukan kesalahan karena sifat ksombongannya. Begitu pula dalam filsafat. Aku meminta maaf karena arogansi filsafatku yang kurang santun memanggil nama-nama para Filsuf. Aku hanya memanggilnya sebagai menurut Plato, atau pendapat Aristoteles, atau bantahan Rene Descartes, atau menurut David Hume atau Teori Immanuel Kant, begitu saja tanpa ada gelar yang mengikuti namanya. Aku pun meminta maaf atas kelancangan filsafatku terhadap subyek penguasaku. Aku Selalu berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah di hadapanmu, sementara aku mengetahui bahwa jika aku melakukan hal demikian maka dirimu tidak merasa nyaman. Karena kesombongan filsafatku juga, aku mau memohon maaf. Aku menyadari bahwa jikalau dikarenakan oleh filsafatku engkau merasa kurang nyaman, maka aku kemudian juga menyadari bahwa ternyata aku belum berfilsafat. Dan yang terakhir aku akan memohon maaf karena kemarahan filsafatku. Filsafatku marah menyaksikan dirimu yang selalu berfilsafat di depan diriku; padahal aku menyaksikan dirimu berfilsafat dengan sombong di depan diriku. Salah satu bentuk kesombongan dirimu adalah engkau mengklaim yang parsial sebagai komprehensif, yang relatif sebagai absolut, yang pilihan sebagai kewajiban. Kesombongan yang lain dari dirimu adalah bahwa engkau mengakui pikiran orang lain sebagai hasil karya pikiranmu sendiri. Maka dengan ini Filsafatku menyatakan kemarahannya kepadamu. Aku marah karena kesombongan berfilsafatmu akan menyebabkan engkau menjadi tidak sedang berfilsafat.
Permasalahan & Filsafat
Masyarakat Jawa erat hubungannya dengan budaya atau tradisi jawa. Budaya Jawa yang kita kenal, misalnya mitoni, mapati, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari dll. Sebagian besar masyarakat Jawa mempercayai adanya budaya tersebut dan melakukan budaya itu guna kehidupan yang lebih baik. Karena masyarakat Jawa percaya budaya jawa seperti mitoni, mapati, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari akan membawa berkah dalam hidup dan kehidupannya. Di satu sisi budaya jawa akan membawa kebaikan bagi masyarakat Jawa, tetapi disisi lain ada beberapa ahli agama yang menentang adanya budaya Jawa seperti mitoni, mapati, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari karena para ahli agama menganggap itu sebagai suatu bid’ah.
Secara filsafat,budaya jawa seperti mitoni, mapati, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari merupakan suatu tradisi. Sebagai manusia kita tidak boleh mengabaikan suatu tradisi. Karena tradisi adalah kebiasaan dan kebiasaan adalah separuh hidupku. Jadi jika aku mengabaikan budaya jawa sama halnya aku mengabaikan separuh hidupku. Tradisi mitoni, mapati, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari boleh kita laksanakan asalkan kita percaya hal itu akan membawa kebaikan, dan jangan dilakukan jika itu hanya akan membawa keburukan. Boleh tidaknya budaya jawa dilaksanakan tergantung bagaimana kita mempercayainya dan dari sudut mana kita memandangnya. Tidak ada yang benar dan salah dalam filsafat, semua terlihat dari mana kita mampu untuk menjelaskannya.
Sebagian pengetahuan adalah mitos dan
Mitos berjalan sesuai dengan dimensinya
Sekian, Mohon maaf & Terimakasih !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar