Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.
Secara implisit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, meurut Aristoteles matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik apriori, menurut Hegel matematika adalah sejarah, menurut Rusell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan. Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan matematika adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan matematika.
Filsafat merupakan refleksi kehidupan. Maka sesungguhnya filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, murid, buku, meja, kursi, matematika, buku, ruang, alat, kegiatan, dsb..banyak sekali. Padahal guru mempunyai sifat yang banyak sekali. Padahal siswa juga mempunyai sifat yang sangat beragam banyaknya. Padahal buku yang digunakan dalam belajar matematika banyak, lebih dari satu. Jadi akan ada banyak hal yang perlu direfleksikan dalam filsafat pendidikan matematika. Bagaimana kita mampu menjelaskan objek filsafat pendidikan matematika yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Itulah tantangan kita.
Menurut apa yang saya baca dalam elegi Bapak Marsigit, pendidikan matematika itu diibaratkan sebagai gerbong kereta api, filsafat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong kereta api, dan filsafat pendidikan matematika ibarat penumpang kereta api yang keluar dari gerbong kereta api kemudian keluar naik helicopter untuk memonitori laju perjalanan kereta api. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh akan lebih kritis pemikirannya dan lebih dapat melihat aspek pendidikan matematika. Belajar filsafat pendidikan matematika layaknya seorang anak kecil yang sedang belajar naik sepeda, membutuhkan waktu dan proses berkelanjutan.
Matematika yang dipandang sebagai ilmu pasti, ternyata jika dilihat dari segi filsafat akan bersifat tidak netral. Maksudnya dalam matematika 2 + 3 = 5 itu benar dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkannya. Tetapi jika dipandang dari segi filsafat 2 + 3 belum tentu akan sama dengan 5. Mengapa ? Karena filsafat adalah suatu refleksi yang harus dilekatkan dengan ruang dan waktu. Yang kita ketahui 2 + 3 = 5 memang benar adanya. Hal ini benar karena matematika belum dilekatkan dengan ruang & waktu. Jika sudah dilekatkan dengan ruang dan waktu 2 + 3 tidak sama dengan 5. Disitulah filsafat yang mempunyai peran besar, termasuk dalam belajar matematika.
Pembelajaran filsafat pendidikan matematika di sekolah dirasa sangat perlu adanya guna menumbuhkan pemikiran kritis para siswa. Sebagai contoh, jika siswa tidak diajarkan filsafat pendidikan matematika maka dalam pikiran mereka selalu terpatok 1 + 1 = 2. Tetapi akan berbeda dengan siswa yang mendapat pelajaran filsafat pendidikan matematika di sekolah. Mereka tentu tidak akan setuju jika 1 + 1 = 2. Dalam pemikiran mereka 1 + 1 belum tentu akan sama dengan 2, tergantung bagaimana dimensinya.
Tujuan filsafat pendidikan matematika di sekolah tidak lain tidak bukan adalah agar kita menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Maksudnya jika di sekolah ada praktik – praktik pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakikat matematika, maka disitulah kita dapat berperan sebagai saksi yaitu dengan menyumbangkan pemikiran kritis kita yang kita dapatkan melalui pembelajaran filsafat pendidikan matematika di sekolah. Memang tidaklah mudah untuk menjadi seorang saksi tentang pendidikan matematika. Tetapi jika kita bersungguh-sungguh dalam belajar filsafat pendidikan matematika, tentu kita akan bisa menjadi saksi seperti apa yang kita harapkan.
Yang paling berbahaya dalam belajar filsafat pendidikan matematika di sekolah adalah ketika kita tidak ikhlas dan tidak sungguh-sungguh dalam belajar filsafat pendidikan matematika. Kita mempelajari filsafat pendidikan matematika hanya untuk mengejar nilai semata, tanpa mengerti maksud & tujuan dari filsafat pendidikan matematika itu sendiri. Itulah sebenar-benarnya jebakan dalam belajar filsafat. Untuk menghindari jebakan dalam belajar filsafat pendidikan matematika, maka mulailah berbuat ikhlas dan sungguh-sungguh dari hal sekecil mungkin dalam segala aspek kehidupan.
Sebagai akhir, saya akan memohon maaf jikalau banyak terdapat kesalahan baik kata maupun pendapat. Saya pun akan meminta maaf atas arogansi filsafatku. Kenapa aku selalu menyebut nama para filusuf secara langsung tanpa ada gelar yang mengikuti. Misalnya pendapat Aristoteles, pemikiran Plato, Descartes, Hegel, Rusell, dst.. Tetapi kenapa pula saya merasa tidak sopan ketika saya menyebut nama Rektor Universitas Negeri Yogyakarta tanpa sapaan. Padahal para filusuf dan Rektor sama-sama orang yang aku hormati. Itu yang menjadi masalah yang harus aku pikirkan.
Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih atas segala ilmu yang telah Bapak Marsigit berikan di perkuliahan filsafat pendidikan matematika. Semoga akan bermanfaat bagi kita kelak. Amien.
Kembangkan selalu pikiran kritis siswa, bangun pikiran kritis itu dengan belajar filsafat pendidikan matematika di sekolah.
Teruslah Berkarya Selagi Kau Masih Muda!!!!