Senin, 20 Juni 2011

Refleksi Perkuliahan Selama 1 Semester

Ada awal pasti ada akhir, ada perjumpaan pastilah ada perpisahan. Tak terasa sudah satu semester aku bersama pikiran para filusuf. Rasanya baru kemarin aku mengikuti perkuliahan filsafat pendidikan matematika. Rasanya baru kemarin pula aku bertemu dengan ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Kini aku harus meninggalkan elegi tuk melangkah kedepan mengikuti jejak langkahku dalam mengaplikasikan segala materi yang telah aku dapatkan selama perkuliahan. Tak akan kutemui lagi tes jawab singkat yang selalu membuat aku dan teman-teman berdebar karena tak kuasa mendengar berapa skor nilai yang diperoleh. Tak ada lagi canda, tawa, suka, duka bersama teman seperjuangan dan Dr Marsigit diperkuliahan filsafat pendidikan matematika.

Biarlah semua itu menjadi kenangan yang akan selalu aku kenang, disetiap jejak langkahku. Aku masih ingat, setiap hari Kamis jam 15.30 aku belajar filsafat pendidikan matematika. Di malam harinya aku memberi comment di elegi – elegi yang diterbitkan oleh Dr Marsigit selaku dosen filsafatku. Kadang rasa malas mengerumuniku setiap kali aku hendak memberi comment. Tetapi, setelah sedikit mengerti arti belajar keikhlasan yang aku dapatkan melalui beberapa elegi yang ada, akhirnya rasa malas pun berubah menjadi rasa keingintahuan lebih dalam layaknya aku sedang membaca sebuah novel yang ingin selalu membaca hingga akhir karena penasaran dengan cerita selanjutnya.

Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan selama perkuliahan filsafat pendidikan matematika selama kurang lebih 1 semester. Yang saya suka dari perkuliahan filsafat pendidikan matematika ini adalah metode pembelajaran yang digunakan yang menurut saya sangat unik dan lain dari pada yang lain. Pembelajaran tidak hanya tatap muka saja, tetapi melibatkan teknologi melalui sebuah blog dengan memberi comment disetiap elegi yang diterbitkan dengan tujuan agar aku dan teman-teman mampu membangun sendiri filsafatku.

Keunikan lain dari perkuliahan filsafat pendidikan matematika ini adalah adanya tes jawab singkat yang diberikan disetiap awal perkuliahan dengan soal yang tak terduga dan hasil yang tak pernah tuntas. Itulah yang membuat perkuliahan filsafat pendidikan matematika semakin berkesan dan tak terlupakan.

Harapannya aku bisa lebih ikhlas dan sungguh-sungguh dalam setiap langkah perjalananku agar aku mampu terhindar dari jebakan filsafat. Dan aku mampu mengamalkan segala hal yang telah aku peroleh di sini tuk aku kembangkan di luar sana. Semoga kita selalu memeroleh kecerdasan hati dan pikiran. Amien.

Sebagai yang terakhir, aku mohon maaf atas segala arogansiku dalam berfilsafat dan mohon maaf pula atas segala kesalahan selama perkuliahan. 

Sukses selalu untuk kita semua!!!!!!!!

Sabtu, 11 Juni 2011

Terima kasih “ Dr Marsigit, My philosophy lecturer”

Empat bulan yang lalu engkau telah mempertemukan aku dengan sebuah mata kuliah yang diberi nama “Filsafat Pendidikan Matematika”.  Di sini  engkau banyak memberi gambaran besar kepada ku seputar dunia filsafat. Aku berangkat dari posisi “nol” untuk mengikuti mata kuliah ini. Pikiranku masih polos, belum terpoles sedikit pun tentang filsafat. Rasa malas tuk mengikuti perkuliahan pun kadang aku rasakan. Dalam hati ini, kadang aku berfikir, untuk apa aku belajar filsafat? Apa ada relevansinya dengan ilmu matematika yang aku pelajari saat ini?

Tetapi, berkat bimbingan tulus mu aku mampu mengubah semua paradigma awal tentang filsafat. Melalui berfikir intensif dan ekstensif aku menyadari bahwasanya filsafat berperan besar dalam hidupku. Jalan pikiran ku pun sedikit lebih menjadi kritis tuk memikirkan hal yang ada dan yang mungkin ada. Kini, aku mengerti 2 + 3 belum tentu akan sama dengan 5, aku mengerti siapa orang paling bodoh, siapakah orang paling seksi, dan aku pun mengerti bagaimana aku mampu bersikap sehingga aku terhindar dari jebakan filsafat.

Setidaknya, sekarang aku jadi tau, siapa yang mengemukakan ilmu adalah asmara, dialah Freud. Kant, yang mengatakan ilmu adalah keputusan. Rusell yang berpendapat bahwa ilmu adalah logika. Aristoteles yang berargument bahwa ilmu adalah pengalaman. Wittgenstain yang berucap ilmu adalah bahasa. Hegel yang bersuara ilmu adalah sejarah. Stuart Mill yang menyampaikan bahwa ilmu adalah manfaat, dan beberapa tokoh filsafat lainnya.

Bangga dan bangga itu kata yang mampu aku ucapkan karena aku telah diberi kesempatan untuk belajar filsafat. Aku mampu mengenal ratusan elegi yang di dalamnya tersirat banyak makna. Aku pun layaknya seorang komentator yang selalu memberi komentar disetiap elegi yang diterbitkan. Aku berkenalan dengan Ontologi, aksiologi, dan epistimologi di sini. Dengan filsafat aku mampu berpendapat semau diriku, karena dalam filsafat tak mengenal benar ataupun salah, semua tergantung bagaimana aku mampu menjelaskannya .

Terimakasih ku ucapkan kepada Dr Marsigit, My philosophy lecturer , karena engkau telah menyumbangkan ilmu filsafatmu kepadaku sehingga saat ini pikiran ku mampu memikirkan sedikit banyak tentang filsafat. Tak ada yang bisa kuperbuat tuk membalas budi baikmu itu, selain mengamalkan ilmu yang tlah engkau berikan. Aku butuh doa darimu, agar kelak aku bisa menularkan ilmu ini kepada orang lain.


Terimakasih terimakasih guruku...
ALLOH yang akan membalas budi baikmu itu
Jasamu tiada tara....................:p